Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Peradilan    
 
Kasus BNI 46
Sidang BNI 46: M Aka Nikmati Miliaran Rupiah Hasil Pemblokiran SHGU 102
Wednesday 27 Mar 2013 01:29:48

Suasana persidangan perkara BNI 46 di Pengadilan Tipikor Medan, Selasa (26/3).(Foto: BeritaHUKUM.com/and)
MEDAN, Berita HUKUM - Komisaris utama PT Atakana Company, Sardul Singh yang hadir sebagai saksi dalam persidangan perkara kredit bermasalah BNI 46 Medan mengakui tidak pernah setuju atas tindakan M Aka secara pribadi melakukan pemblokiran agunan SHGU 102 di BNI 46 Medan.

Bahkan Fakta terungkap dari komisaris PT Atakana yang juga hadir sebagai saksi menyatakan kalau hasil kebun sawit SHGU 102 yang jumlahnya mencapai miliaran perbulannya setelah perkara ini terjadi atau sejak April 2011, tidak pernah masuk ke kas perusahaan melainkan ke kantong pribadi M Aka sendiri.

Pada sidang di Pengadilan Tipikor Medan, Selasa (26/3) itu, di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Erwin Mangatas Malau, saksi Sardul Singh selaku Komisaris Utama di PT Atakana Company mengatakan pihaknya telah mensepakati penjualan aset SHGU 102 itu dengan Boy Hermansyah sebesar Rp115 miliar. Lalu dilakukanlah RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) yang menyatakan memberi persetujuan dan kekuasaan penuh kepada pihak ketiga untuk bertindak dan berkuasa penuh mengatasi tunggakan hutang dan seluruh kewajiban PT Atakana Company kepada BNI SKM Medan serta memberikan izin kepada pihak ketiga bertindak dan berkuasa sepenuhnya menjual aset SHGU 102.

"Harga yang kita sepakati Rp 115 miliar dengan Boy Hermansyah. Kita ada buat RUPS, ada 3 kali itu. Intinya Boy agar membayar hutang kredit ke BNI serta memberikan seluruh sisanya kepada para pemegang saham. Dari pembayaran itu saya juga sudah menerima pembayaran Rp 18 miliar. Pemegang saham lain juga menerima pembayaran tapi saya tidak tahu berapa persis jumlahnya," jelas Sardul.

Kemudian, dalam proses balik nama, salah satu pemegang saham yakni M Aka selaku Dirut, secara pribadi melakukan pemblokiran ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Pusat. Padahal sebelumnya para pemegang saham tidak pernah menyatakan keberatan atas penjualan SHGU 102 itu.

"Kita ingin menanyakan kenapa ada pembatalan secara pribadi. Sedangkan pemegang saham lain tidak keberatan dan tidak pernah setuju atas pemblokiran tersebut karena telah terjadi pembayaran sebesar Rp 115 Miliar kepada PT Atakana Company dari Boy Hermansyah," terangnya.

Sementara itu, saksi Abdul Wahab mengatakan setelah aset SHGU 102 itu bermasalah, M Aka lah yang menguasai aset tersebut secara pribadi. Bahkan M Aka tidak pernah membuat laporan pertanggungjawabannya.

"Belakangan saya tahu M Aka menguasai aset itu. Sejak kebun itu bermasalah, M Aka yang menguasai. Padahal masing-masing pemegang saham telah menerima uang dari Rp 115 miliar itu. Saya sendiri mendapat bagian Rp 8 miliar. Meski struktur perusahaan tidak ada berubah, tapi sampai sekarang M Aka tidak ada laporan kepada kami," terang Abdul.

Tambah Abdul, aset SHGU 102 itu pengikatan jual belinya ada namun untuk akta jual belinya masih dalam proses karena harus balik nama.

"Belakangan saya baru tahu ada surat blokir dari M Aka kepada BPN untuk membatalkan proses balik nama itu. Kalau saya lihat dia memblokir itu secara pribadi. Bukan berdasarkan perusahaan karena kami pemegang saham lain tidak ikut meneken. Pemblokiran itu tanpa melalui RUPS. Bahkan secara direksi M Aka tidak pernah menyampaikan laporan," jelasnya.(bhc/and)


 
Berita Terkait Kasus BNI 46
 
Cerita Menarik di Seputar Pembacaan Pledoi BNI 46
 
Pledoi BNI 46: 'Jaksa Penggal Fakta Persidangan'
 
Sidang BNI 46: 'Kami Dizalimi, Mamaku Bukan Penjahat'
 
Sidang BNI 46: Tuntutan 8 Tahun, Jaksa Dinilai Dibutakan Logika Hukum dan Nurani
 
Kredit Bermasalah BNI 46 Absolut Perdata Bukannya Tipikor
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]