Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Palestina
Konflik Palestina-Israel, Bukan Untuk Diratapi, Tapi Diakhiri
2021-05-22 02:53:15

Oleh: Dr. H. Tony Rosyid

ISRAEL JAHAT, Iya! Dalam 11 hari, serangan Israel telah membunuh 232 orang, melukai 1.900 warga, mengusir 75.000 penduduk dari rumah, dan merobohkan lebih dari 500 bangunan. Ini angka yang diumumkan. Yang tidak diumumkan terkadang lebih banyak. Mereka yang meninggal, terluka dan diusir diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Ini tentu sebuah kejahatan besar. Dan kita sepakat soal ini!

Serangan ini bukan pertama kali. Ini sudah puluhan kali sejak 1948 Israel menguasai Palestina. Sudah ratusan ribu orang meninggal dalam akumulasi penyerangan yang seringkali terjadi di wilayah Palestina, khususnya Jalur Gaza.

Setiap Israel menyerang, media gencar memberitakan. Sekian orang yang mati, sekian orang yang terluka, sekian rumah yang roboh, sekian penduduk yang mengungsi. Berita ini semacam ritual sekian tahun setiap Israel menyerang. Seolah seperti kaset yang disetel ulang, dengan variasi angka yang berubah.

Dunia mengutuk, masyarakat sedih, lalu di berbagai belahan dunia ada protes di jalanan, mengucapkan belasungkawa dan berdonasi. Fenomena ini sudah jadi semacam tradisi. Bahasa kerennya: "human ethics".

Ini bagus, dan harus terus dilakukan sebagai ekspresi kemanusiaan, sekaligus mencegah dunia ini makin rusak karena perang. Ini bukan semata-mata hanya untuk kepentingan rakyat Palestina, tapi ini keoentingan seluruh umat manusia di dunia dalam menjaga bumi agar tidak cepat punah karena perang.

Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan: apakah sikap protes di jalan, ucapan belasungkawa, kumpulkan bantuan, akan menghentikan penyerangan Israel? Untuk sementara, iya. Tapi, tidak seterusnya. Setelah itu, sekian bulan atau sekian tahun berikutnya, Israel akan menyerang lagi. Meski tanpa alasan rasional dan tanpa didahului ketegangan. Demi untuk mengenang masa lalu, nyerang. Gila bukan? Ini tidak akan terjadi kecuali dilakukan oleh penjahat perang.

Tidak terlihat ada upaya yang terukur dan bisa menghentikan penyerangan Israel ke warga Palestina secara permanen. Yang terjadi hanya menghentikan sementara, tepatnya menunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kenapa penyerangan Israel itu tidak dihentikan secara permanen? Ada sejumlah persoalan. Pertama, ada konflik internal di Palestina. Hamas sebagai kelompok kanan militan dan Fatah yang sekuler tidak kompak. Kalau di internal tidak kompak, gimana mau merdeka?

Kedua, kemampuan perang Palestina, terutama Hamas, kalah jauh dari Israel. Baik skill, anggaran maupun peralatan perangnya. Khusus alutsista, milik Hamas tentu masih kalah canggih dari Israel.

Ketiga, OKI yang notabene menjadi organisasi negara-negara muslim yang peduli pada konflik Israel-Palestina, juga tidak kompak dalam bersikap. Sebagian masih mendukung Israel. Sehingga, organisasi ini tidak mampu mengendalikan dan memberikan tekanan.

Keempat, konflik Israel- Palestina tidak benar-benar mau diselesaikan, baik oleh PBB, maupun organisasi dunia yang lain. Serang, mati, belasungkawa, bantu. Terus menerus ritmenya seperti ini. Mau sampai kapan?

Jika Hamas dan Fatah bersatu, lalu mengembangkan skill perang dan peralatan yang canggih, mampu melakukan lobi dan deplonasi internasional yang kuat, maka harapan untuk merdeka akan terbuka. Tapi, jika Palestina tetap bertahan dalam situasi yang ada, puas dengan kekuasaan kecil yang diperebutkan dan dibagi-bagi antar faksi, maka kemerdekaan hanya akan bergantung pada doa.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.(tr/bh/sya)



 
Berita Terkait Palestina
 
Diminta AS mengakui Israel, begini sikap tegas Pakistan
 
Terekam, Biadabnya Tentara Israel Rayakan Kehancuran RS Indonesia
 
Insiden Terbunuhnya Ismail Haniyeh Perburuk Situasi Timur Tengah
 
Muhammadiyah Konsisten Membela Palestina dari Dulu Hingga Kini
 
Enam bulan pertikaian di Gaza dalam angka
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak
Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)
Kapal induk pertama Indonesia segera dikirim dari Italia, persiapan dipercepat
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Pidato Presiden Tunjukkan Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]