Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Mesir
Bentrokan di Mesir Masih Berlanjut
Thursday 24 Nov 2011 23:28:04

Pihak keamanan Mesir membubarkan pengunjuk rasa (Foto: AP Photo)
KAIRO (BeritaHUKUM.com) – Kekerasan masih berlanjut di Kairo, saat pendemo terus mendesak rezim militer mundur. Pertempuran jalanan dengan polisi anti huru hara berlangsung sengit di sekitar kawasan kementerian dalam negeri di dekat Lapangan Tahrir, Kairo, Mesi.

Letusan senjata api, dilaporkan BBC, Kamis (24/11), terdengar. Tetapi kementerian dalam negeri mengatakan pasukan keamanan hanya melakukan tembakan gas air mata. Para pendemo masih menolak usulan dewan militer yang menyatakan akan mempercepat transisi ke pemerintahan sipil. "Mereka (militer) bersama Mubarak sejak awal," seru para pendemo.

Aksi kekerasan aparat keamanan Mesir ini, dapat mengancam pemilihan umum parlemen yang akan berlangsung pekan depan. Opini publik dalam aksi kali ini tampaknya juga terpecah. Sejumlah warga Mesir menginginkan pemilu tetap dilakukan tanpa ada rintangan . Sementara yang lainnya meyakini militer harus meninggalkan kekuasaan terlebih dahulu.

Pertikaian kini memasuki hari ke enam, terpanjang setelah kekerasan pecah pasca 18 hari demo berdarah yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada Februari silam. Sejak saat itu, dewan militer mengambil alih kekuasan dengan membawa transisi negara ke demokrasi. Aksi terbaru pecah karena dipicu oleh kecurigaan bahwa militer berniat untuk tetap berkuasa.

Beberapa hari lalu, Panglima Militer Mesir sekaligus merangkap Kepala Dewan Tertinggi Pasukan Bersenjata, Mohamed Hussein Tantawi, berjanji untuk mengurangi kekerasan dengan mempercepat pemilihan presiden pada Juni 2012, atau enam bulan lebih cepat dari yang direncanakan.

Kabinet Sipil Mundur
Kabinet sipil yang ditunjuk militer juga telah mengajukan pengunduran diri. "Mereka (militer) bersama Mubarak sejak awal. Saya datang ketika saya melihat anak kami dibunuh,” kata anggota kabinet, Fatihia Abdul Ezz (60) yang ikut bergabung dalam kerumunan massa pendemo.

Kelompok pendemo pelempar batu dilaporkan kini terjebak dalam pertarungan jalanan diantara Lapangan Tahrir dan kementerian dalam negeri untuk beberapa hari. Polisi memblokir jalanan yang mengarah ke kementerian dalam negeri dan mendorong pendemo dengan tembakan gas air mata dan peluru karet yang dilapisi oleh baja.

Pendemo mengaku adanya korban luka dan tewas akibat penggunaaan peluru tajam tetapi Menteri Dalam Negeri Mansour el-Essawy mengatakan pasukan keamanan hanya menembakan gas air mata. Sejumlah laporan menyebut adanya penembak jitu dari atas bangunan sekitar Lapangan Tahrir. Rabu (23/11) kemarin, gencatan senjata sempat didorong oleh para pemuka agama, tetapi kemudian kekerasan kembali berlanjut hingga malam.

Selain di Kairo bentrokan juga pecah di Alexandria, kota terbesar kedua di Mesir, dan Ismailia, di Kanal Suez. Dalam tayangan televisi dari Ismailia menunjukkan patroli kendaraan bersenjata disaat pasukan keamanan membubarkan pendemo dengan rangkaian tembakan gas air mata.

Meski aksi demo kembali pecah tetapi, Ikhwanul Muslimin, selaku kelompok oposisi utama tidak mendukung aksi itu dan mengharapkan ada hasil yang bagus saat pemilu parlemen berlangsung pekan depan. Sementara itu, kepala hak asasi manusia PBB Navi Pillay mengutuk penggunaan pasukan keamanan berlebihan yang dilakukan militer saat membubarkan massa.

Dia mengatakan akan melakukan penyelidikan independen atas kematian yang terjadi selama akhir pekan kemarin. Kementerian kesehatan mengatakan ada 35 orang yang tewas dalam bentrokan sejak Sabtu, dan ratusan lainnya luka-luka.(bbc/sya)


 
Berita Terkait Mesir
 
Mesir Temukan 'Kota Emas yang Hilang' Warisan Firaun 3.000 Tahun Lalu, Temuan Paling Penting setelah Makam Tutankhamun
 
Terusan Suez Sudah Bisa Dilewati, Mesir Buka Penyelidikan terhadap Kapal Kontainer yang Kandas
 
Muhammad Mursi Meninggal, Presiden Erdogan: Pemerintah Mesir Harus Diadili di Mahkamah Internasional
 
Ustadz Hanan Attaki, Lc tentang Muhammad Mursi
 
Total 44 Tewas, 2 Gereja Dibom, Mesir Tetapkan Keadaan Darurat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]